
Berita Berlian - kerusuhan, penyanderaan hingga pembunuhan yang dilakukan oleh narapidana teroris (napiter) tak ubahnya adegan film thriller. Ratusan napi teroris yang menurut Menko Polhukam Wiranto harusnya ‘insaf’ itu malah melakukan tindakan yang membuat geger seantero negeri, bahkan jadi berita skala internasional. Aparat keamanan harus berjibaku selama 36 jam untuk merebut kembali wilayah Mako Brimob.
Kerusuhan bermula pada Selasa 8 Mei 2018 malam. Menurut keterangan polisi, kericuhan ini berawal dari protes seorang napi yang mempertanyakan keberadaan makanan yang diberikan oleh keluarganya. Seorang polisi bernama Muhammad Ramdani kemudian mendatangi sel napi yang diduga bernama Wawan Kurniawan dan mengatakan bahwa makanan akan diberikan setelah Isya, karena sedang dibawa oleh petugas bernama Budi.

Tak terima, Wawan kemudian berteriak dan memprovokasi rekan-rekannya untuk membuat kericuhan. Alhasil, pintu di Blok C dijebol dan polisi mulai kewalahan menangani kericuhan. Para napi teroris yang mengamuk itu kemudian menyandera 9 orang polisi, 5 orang gugur sedangkan 4 orang lainnya berhasil dikeluarkan secara dramatis.
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengungkap, tim negosiator yang dibentuk kemudian menawarkan makanan kepada para napi tersebut agar menyerahkan Brigadir Iwan Sarjana, polisi terakhir yang masih disandera kala itu. Upaya itu berhasil, Iwan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Polri untuk mendapat perawatan. Iwan diketahui mengalami luka lebam di wajah dan bagian tubuh yang lainnya.
Setelah seluruh sandera berhasil dibebaskan, polisi mulai bisa menguasai sitauasi. Puncaknya adalah sekira Pukul 07.15 WIB, Kamis 5 Mei 2018, operasi penanganan kerusuhan di Mako Brimob berakhir setelah berlangsung 36 jam, seluruh napi menyerahkan diri tanpa syarat. Di detik-detik akhir penanganan tersebut, sempat terdengar letusan tembakan dan suara ledakan sebagai upaya sterilisasi.
156 Napi Teroris Terlibat
Jumlah napi teroris yang terlibat dalam tindakan kerusuhan, penyanderaan dan pembunuhan tersebut sebanyak 156 orang. Mereka menguasai Blok A, B dan C hingga polisi sempat tak bisa masuk menyerbu. Apalagi, para napi tersebut juga memegang senjata laras panjang yang daya tempuhnya hingga 800 meter.

Senjata api tersebut merupakan senjata yang dulunya didapatkan dari kelompok teroris yang berhasil diamankan polisi dalam operasi antiteror di beberapa daerah. Celakanya, senjata itu direbut kembali oleh para napi teroris saat kerusuhan.
Salah satu napi kemudian tewas dalam kerusuhan tersebut. Sisa 155 napi kemudian menyerahkan diri setelah diultimatum menyerah atau melawan dengan segala risikonya. Menko Polhukam Wiranto kemudian mengungkapkan, tak seluruh napi teroris langsung menyerahkan diri, sebanyak 10 orang sempat ngeyel hingga dilakukan penyerbuan terencana hingga akhirnya mengalah.
Tak ada tahanan yang terluka dalam penanggulangan kerusuhan tersebut, kata Wakapolri Komjen Syafruddin. Hal itu merupakan keberhasilan dari pendekatan lunak (soft approach) yang dilakukan aparat keamanan dalam menghadapi dan menanggulangi teroris.

Para tahanan yang menyerahkan diri itu akan dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan lain, termasuk ke Nusakambangan sebagai salah satu opsinya.
5 Polisi Dibunuh Secara Sadis
Peristiwa kerusuhan dan penyanderaan oleh napi teroris di Mako Brimob meninggalkan duka. Sebanyak lima anggota Polri yang bertugas gugur dengan kondisi yang memprihatinkan. Karo Pengmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohamad Iqbal mengatakan, para ksatria yang gugur itu mendapat luka akibat senjata tajam di bagian leher.
Mereka yang gugur dan mendapatkan kenaikan pangkat Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Respuji Siswanto, Aipda Luar Biasa Anumerta Benny Setiadi, Brigadir Polisi Luar Biasa Anumerta Sandi Setyo Nugroho, Briptu Luar Biasa Anumerta Syukron Fadhli dan Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.
Wakapolri kemudian meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia, terutama kepada keluarga anggota Polri yang gugur dalam tugas tersebut.
Kerusuhan bermula pada Selasa 8 Mei 2018 malam. Menurut keterangan polisi, kericuhan ini berawal dari protes seorang napi yang mempertanyakan keberadaan makanan yang diberikan oleh keluarganya. Seorang polisi bernama Muhammad Ramdani kemudian mendatangi sel napi yang diduga bernama Wawan Kurniawan dan mengatakan bahwa makanan akan diberikan setelah Isya, karena sedang dibawa oleh petugas bernama Budi.

Tak terima, Wawan kemudian berteriak dan memprovokasi rekan-rekannya untuk membuat kericuhan. Alhasil, pintu di Blok C dijebol dan polisi mulai kewalahan menangani kericuhan. Para napi teroris yang mengamuk itu kemudian menyandera 9 orang polisi, 5 orang gugur sedangkan 4 orang lainnya berhasil dikeluarkan secara dramatis.
Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto mengungkap, tim negosiator yang dibentuk kemudian menawarkan makanan kepada para napi tersebut agar menyerahkan Brigadir Iwan Sarjana, polisi terakhir yang masih disandera kala itu. Upaya itu berhasil, Iwan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Polri untuk mendapat perawatan. Iwan diketahui mengalami luka lebam di wajah dan bagian tubuh yang lainnya.
Setelah seluruh sandera berhasil dibebaskan, polisi mulai bisa menguasai sitauasi. Puncaknya adalah sekira Pukul 07.15 WIB, Kamis 5 Mei 2018, operasi penanganan kerusuhan di Mako Brimob berakhir setelah berlangsung 36 jam, seluruh napi menyerahkan diri tanpa syarat. Di detik-detik akhir penanganan tersebut, sempat terdengar letusan tembakan dan suara ledakan sebagai upaya sterilisasi.
Jumlah napi teroris yang terlibat dalam tindakan kerusuhan, penyanderaan dan pembunuhan tersebut sebanyak 156 orang. Mereka menguasai Blok A, B dan C hingga polisi sempat tak bisa masuk menyerbu. Apalagi, para napi tersebut juga memegang senjata laras panjang yang daya tempuhnya hingga 800 meter.








0 komentar:
Posting Komentar